Farmasi Dinkes Rejang Lebong

Demam bukanlah musuh yang harus di perangi

Posted on: Oktober 26, 2008

Posted On: 26 Oktober 2008

Filed In: Bacaan ayah Bunda

Action: Drop Coment

Publikasi: We R Mommies
Oleh: Agnes Tri Harjaningrum, dr

* Not all fevers need to be treated but many physicians do so to relieve parental concern
* Tidak semua panas badan memerlukan pengobatan, namun banyak dokter melakukannya hanya untuk mengurangi kegelisahan orangtua.
– (Europe[an] Journal Pediatric, 1994 Jun)

Demam pada anak sering menimbulkan fobia tersendiri bagi banyak orangtua. Keyakinan untuk segera menurunkan panas ketika anak demam sudah melekat erat dalam benak orangtua. Demam diidentikkan dengan penyakit, sehingga saat demam berhasil diturunkan, orangtua merasa lega karena menganggap penyakit akan segera pergi bersama turunnya panas badan.

Keinginan untuk menenangkan kegelisahan orangtua inilah yang terkadang “memaksa” dokter memberikan obat penurun panas walaupun sebenarnya mungkin tidak perlu. Selain itu tak dapat dipungkiri bahwa dokter yang gemar melakukan pengobatan “ala koki” (meminjam istilah Dr Paul Zakaria da Gomez-ahli imunologi) masih kerap dijumpai. Seperti halnya makanan yang kurang manis ditambah gula, kurang asin ditambah garam, begitu pula pengobatan “ala koki” dilakukan. Apapun penyebabnya, penderita panas badan langsung dicekoki obat penurun panas tanpa memastikannya terlebih dulu.

Apakah memberikan obat penurun panas ketika anak demam merupakan suatu hal yang salah? Bukankah bila demam tidak diturunkan akan menimbulkan kerusakan pada otak? Bukankah pemberian obat penurun panas menyebabkan anak terhindar dari kejang demam (stip), membuat anak merasa lebih nyaman dan meningkatkan nafsu makan? Hal-hal seperti itulah yang sering terdengar mengenai demam dan banyak didengung-dengungkan di berbagai media iklan. Alhasil demam semakin menjadi momok yang menakutkan bagi orangtua, dan memperkuat keyakinan orangtua untuk buru-buru menurunkan panas ketika anak demam.

Namun sesungguhnya para ahli menyatakan bahwa pendapat-pendapat tersebut hanyalah mitos belaka karena tidak semua dapat dibuktikan kebenarannya. Keberadaan demam justru berperan penting dalam proses penyembuhan penyakit. Bahkan pemberian obat penurun panas ketika anak demam (baik aspirin, paracetamol/acetaminophen maupun ibuprofen) terbukti lebih banyak menimbulkan dampak negatif ketimbang positif.

Sebelum mengetahui lebih lanjut dampak-dampak tersebut, harus dipahami terlebih dahulu bahwa terjadinya demam ketika seorang anak mengalami infeksi bukanlah suatu kesalahan. Tuhan memang sudah memberikan demam sebagai reaksi alamiah tubuh terhadap adanya infeksi. Sehingga ketika seorang anak mengalami infeksi, keberadaan demam semestinya disyukuri, bukan ditakuti atau
diperangi karena hal ini merupakan pertanda bahwa mekanisme pertahanan tubuh sedang bekerja untuk melawan penyakit. Demam memang tidak hanya dapat disebabkan oleh infeksi, bisa saja terjadi karena pencetus lain seperti reaksi transfusi, tumor, imunisasi, dehidrasi , dan lain sebagainya. Tetapi pada anak umumnya demam terjadi karena suatu infeksi kuman, entah itu virus maupun bakteri.

Mengapa reaksi alamiah tubuh ini harus disyukuri? Berbagai literatur menyebutkan bahwa komponen-komponen sistem kekebalan tubuh, seperti sel darah putih (leucocyt) dan lymphocyt (salah satu jenis sel darah) akan bekerja lebih baik melawan kuman dalam keadaan suhu tubuh yang meningkat ketimbang suhu tubuh normal. Artinya, menurunkan suhu tubuh ketika anak demam justru akan melemahkan sistem kekebalan tubuhnya.

Saat demam terjadi, pergerakan dan aktivitas sel-sel darah putih yang meningkat, serta terjadinya perubahan bentuk lymphocyt dapat membunuh bakteri maupun virus yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, jumlah interferon, yang merupakan salah satu substansi anti virus dan anti kanker dalam darah, juga akan meningkat dengan adanya demam. Teori tersebut juga didukung oleh sebuah penelitian di laboratorium, pada binatang yang sengaja diinfeksi oleh suatu penyakit. Ternyata dengan meningkatnya suhu tubuh binatang-binatang yang terinfeksi itu, angka kelangsungan hidup mereka semakin meningkat. Sebaliknya dengan menurunkan suhu tubuh ketika terjadi infeksi, malah meningkatkan angka kematian binatang-binatang tersebut.

Hylary Buttler, seorang peneliti dari New Zealand telah mengumpulkan kutipan-kutipan dari berbagai literatur kedokteran yang membuktikan bahwa demam memang diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh ketika terjadi infeksi. Sebaliknya pemberian obat penurun panas seperti Paracetamol / acetaminophen, aspirin dan ibuprofen malah memberikan pengaruh negatif.

Dalam salah satu kutipan itu disebutkan bahwa pemberian obat penurun panas untuk menurunkan demam akan meningkatkan angka kematian dan kesakitan selama infeksi. Pemberian acetaminophen dinyatakan juga dapat menginduksi terjadinya pneumonia. Selain itu semakin sering memberikan obat penurun panas pada anak dengan penyakit infeksi, ternyata malah akan memperparah dan memperpanjang masa sakitnya. Fakta lain yang lebih penting menginformasikan bahwa obat penurun panas dapat memberikan gejala palsu. Penderita demam yang disangka sedang dalam masa penyembuhan karena panasnya sudah turun, ternyata luput dari observasi dan mengakibatkan penyakitnya berlanjut semakin buruk akibat pemberian obat penurun panas.

Walaupun belum dinyatakan kebenarannya, namun Dr Torres, seorang peneliti senior dari Biomedical Utah State University, memberikan teori baru mengenai penyebab potensial merebaknya kasus autism belakangan ini. Demam yang dihambat dengan pemberian obat penurun panas pada ibu hamil dan anak-anak kecil, dikatakan terlibat sebagai biang kerok terjadinya autism dan neurodevelopmental disorders. Pada akhirnya kerugian pemberian obat penurun panas ini tentu saja berhubungan dengan biaya pengobatan yang seharusnya tidak perlu dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih penting.

Lalu bagaimanakah dengan kebenaran mitos-mitos yang sudah mendarah daging diyakini para orangtua? Dalam bukunya “How To Raise A Healthy Child in Spite of Your Doctor”, Dr Robert Mendelsohn yang juga seorang dokter spesialis anak mengatakan, demam tinggi bukanlah penyebab kejang demam. Kejang demam muncul ketika suhu badan meningkat dengan kecepatan yang sangat tinggi dan hal ini umumnya jarang terjadi. Hanya 4 % anak-anak dengan demam tinggi yang demamnya berhubungan dengan kejang. Tidak ditemukan pula bukti-bukti yang menyatakan bahwa setelah kejang demam mereka kemudian mengalami efek serius. Anggapan bahwa pemberian obat penurun panas akan mengurangi kejadian kejang demam pun tidak didasari oleh bukti yang nyata. Karena itu memberikan obat penurun panas kepada semua anak yang mengalami demam, hanya akibat 4% kejadian kejang demam, bukanlah hal yang rasional.

Selain itu demam yang terjadi karena infeksi bakteri atau virus, pada umumnya tidak akan menyebabkan kerusakan otak atau kerusakan fisik permanen seperti anggapan yang telah dianut selama ini. Demam adalah hal yang biasa terjadi pada anak dan bukan merupakan suatu indikasi penyakit serius kecuali bila disertai dengan perubahan penampilan, perubahan tingkah laku atau gejala-gejala tambahan seperti kesulitan bernafas, kaku kuduk atau kehilangan kesadaran. Hanya demam diatas 42,2 derajat C yang telah diketahui dapat menyebabkan kerusakan otak.

Namun tentu saja terdapat perkecualian, yaitu bila demam terjadi pada bayi yang baru lahir. Demam yang terjadi pada bayi di minggu-minggu pertama kehidupannya harus mendapatkan perhatian serius, karena kemungkinan besar infeksi didapat dari proses persalinan, atau pun penyebab lain.

Asumsi yang juga telah sangat diyakini orangtua adalah pernyataan bahwa obat penurun panas akan menyebabkan anak merasa lebih baik, lebih aktif dan meningkatkan nafsu makan. Padahal penelitian membuktikan bahwa tidak ada perbedaan efek yang tampak ketika penderita demam diberi obat penurun panas maupun placebo. Jadi tidak dapat dibedakan apakah keadaan lebih baik yang dirasakan penderita sebetulnya merupakan efek placebo atau efek obat. Tapi bila obat penurun panas dipakai sebagai placebo, artinya placebo yang digunakan merupakan placebo yang sangat berbahaya.

Dari keterangan diatas jelas lah sudah bahwa demam bukanlah musuh yang harus diperangi. Karena itu penggunaan obat penurun panas sebaiknya betul-betul diberikan secara rasional. Beberapa negara bahkan membuat peraturan agar dokter-dokter mereka memberikan obat penurun panas pada pasien, hanya ketika demamnya mencapai 40,5 derajat C atau lebih.

Mengingat pengaruh emosional yang telah begitu mendalam di benak orangtua, merubah perilaku ini tentu menjadi pekerjaan yang teramat sulit. Namun dengan merubah paradigma tentang demam, dan menyadari dampak negatif pemberian obat penurun panas pada anak, diharapkan demam tidak lagi menjadi “monster” yang menyeramkan bagi orangtua. Orangtua tidak lagi perlu buru-buru membeli obat penurun panas di warung dekat rumah, atau pun “memaksa” dokter untuk segera menurunkan demam anak.

Selain itu akan sangat bijaksana pula, bila dokter tidak begitu saja dengan mudah memberikan obat penurun panas tanpa indikasi yang betul-betul perlu. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya keberadaan demam dan dampak negatif menurunkan panas badan ketika anak demam, merupakan tindakan yang lebih rasional. Bila hal ini dilakukan, paling tidak ancaman pengaruh buruk akibat rutinnya penggunaan obat penurun panas terhadap kesehatan anak-anak dikemudian hari, dapat dikurangi. (Agnes Tri Harjaningrum, dr.)

 

Demam tanda badan anak lawan penyakit
Oleh NORLAILA HAMIMA JAMALUDDIN

APABILA anak demam dan suhu badan meningkat mendadak, ramai ibu bapa tidak boleh tidur malam. Perasaan risau, serba salah dan bimbang bercampur aduk, apatah lagi jika berlaku pada pasangan muda yang baru menimang cahaya mata serta tidak tahu bagaimana hendak mengurangkan penderitaan si kecil.

Demam adalah masalah kesihatan biasa yang berlaku pada kebanyakan kanak-kanak. Walaupun kadangkala membimbangkan, ia sebenarnya menandakan badan mereka melawan jangkitan atau keradangan yang disebabkan bakteria atau virus.

Apabila demam, sel darah putih pesakit akan cuba melawan bakteria atau virus dengan mengeluarkan bahan kimia yang menaikkan suhu badan.

Peningkatan suhu badan ini sebenarnya cara membunuh kuman, tetapi ia juga boleh menyebabkan anak anda demam.

Bagaimanapun, dalam risalah keluaran Panadol, perunding paediatrik, Dr Khoo Phaik Choo, berkata demam itu bukan satu penyakit, tetapi ia menjadi petanda atau amaran kepada penyakit lain iaitu daripada sakit tekak hinggalah kepada jangkitan demam denggi.

Ramai beranggapan lebih tinggi suhu badan, demamnya semakin berbahaya. Namun tanggapan ini kurang tepat kerana suhu tinggi tidak semestinya bermakna anak anda lebih sakit berbanding suhu lebih rendah.

“Suhu badan tidak boleh dijadikan pengukur kesakitan anak. Cara lebih tepat ialah melihat keadaan dan tindak balasnya. Jika anak anda tidak menangis, tidak banyak kerenah dan masih ada selera makan, kemungkinan mereka tidak menghadapi masalah yang perlu dirisaukan.

“Sebaliknya, masalah mungkin serius jika mereka menunjukkan tanda terlalu lesu, lemah dan tidak bermaya serta muntah secara berlebihan,” katanya.

Malah, suhu badan tinggi masih tidak dianggap demam hinggalah ia mencecah 37.5 darjah Celsius (100 darjah Farenheit) atau lebih tinggi. Suhu badan normal ialah 37 darjah Celsius (98.6ºF) dan paras ini turun naik sepanjang hari.

Katanya, suhu badan juga bergantung kepada waktu ia diambil dan kelasakan si kecil. Justeru, ibu bapa disaran menyimpan jangka suhu (termometer) di rumah supaya lebih mudah mengukur suhu badan anak dengan tepat, dan bukan berdasarkan sentuhan tangan saja.

Ukuran suhu badan anak kecil biasanya diambil di bawah lengan (ketiak) atau telinga. Ukuran suhu badan yang diambil di bawah lengan adalah 0.5 darjah lebih rendah daripada suhu yang diambil pada telinga.

Malah, ia juga perlu diukur beberapa kali untuk melihat perubahan suhu badan anak. Ukuran tepat ini dapat membantu doktor mengenal pasti masalah kesihatan anak anda jika demamnya berterusan.

Walaupun ramai ibu bapa resah apabila anak demam, ada juga yang mengambil sikap tunggu dan lihat sama ada keadaan menjadi bertambah buruk atau sebaliknya sebelum memberikan ubat. Ini terpulang kepada penilaian masing-masing.

Kaedah melawan demam

Demam biasanya membuat kanak-kanak berasa resah, tidak selesa dan meragam. Jika ia berlaku, Dr Khoo menasihatkan anda melakukan kaedah di bawah untuk membuatkan anak berasa lebih selesa dengan cepat dan dapat melawan demam.

  • Beri si manja minum banyak air masak. Demam menyebabkan kanak-kanak banyak kehilangan air dalam badan, dan demam yang berpanjangan boleh mengakibatkan penyahidratan atau kekurangan air dalam badan.
  • Bantu anak untuk berasa selesa. Kanak-kanak yang demam mungkin berasa letih, lesu dan kurang selera makan. Bagaimanapun, semua ini gejala sementara dan mereka akan pulih seperti biasa sebaik demamnya sembuh. Ketika ini, pakaikan si manja dengan baju daripada fabrik nipis dan ringan yang mempunyai aliran udara baik.
  • Jangan paksa anak anda makan. Secara umumnya orang yang demam kurang selera makan dan ia juga berlaku pada kanak-kanak. Biarkan mereka menentukan bila dan apa yang ingin dimakan.
  • Timbangkan pemberian ubat. Pemberian parasetamol seperti diarahkan doktor adalah langkah selamat. Ia boleh membantu membuat kanak-kanak lebih selesa dengan mengurangkan demam dan melegakan pelbagai kesakitan atau ketidakselesaan fizikal lain yang dialaminya.Ubat paling kerap digunakan untuk melawan demam di kalangan kanak-kanak ialah parasetamol. Oleh kerana parasetamol adakalanya disyorkan bersama antibiotik, penggunaannya menimbulkan beberapa kekeliruan.

    Parasetamol ialah ubat pelega kesakitan dan berbeza daripada antibiotik dalam dua cara:

  • Pertama, antibiotik tidak berkesan menentang demam yang disebabkan jangkitan virus. Sebaliknya, parasetamol adalah ubat pelega kesakitan atau analgesik yang berkesan untuk menentang segala demam, walau apa pun puncanya.Biasanya doktor tidak mengesyorkan pemberian aspirin kepada kanak-kanak kerana ia dikaitkan dengan sindrom Reye, iaitu penyakit ganjil tetapi serius yang menjejaskan otak dan hati bayi dan kanak-kanak berusia bawah 12 tahun.

  • Kedua, ubat antibiotik yang disyorkan mesti diambil semuanya mengikut preskripsi untuk mengekalkan keberkesanannya. Tindakan tidak menghabiskan antibiotik ini boleh menghasilkan bakteria lebih berdaya tahan dan menyebabkan jangkitan berulang.Bagaimanapun, parasetamol bukan antibiotik, jadi isu ketahanan bakteria tidak timbul. Malah, ia digunakan lebih 50 tahun, terbukti selamat, tidak merengsakan perut dan memberikan kesan konsisten.

    “Kanak-kanak bukan saja kerap jatuh sakit, malah serangan biasanya berlaku tanpa diduga. Jadi, anda boleh menyimpan ubat demam seperti parasetamol di rumah untuk memudahkan anda mengurus demam anak yang boleh menyerang bila-bila masa.

    “Dos yang betul bergantung kepada usia dan berat badan anak. Baca arahan pada label botol dengan teliti dan dapatkan nasihat doktor untuk memastikan dos yang betul,” katanya.

    Sudu sukatan, cawan sukatan atau picagari dapat membantu memastikan anak anda mendapat jumlah ubat secukupnya. Elakkan penggunaan sudu biasa yang digunakan di rumah kerana saiznya tidak seragam.

    Menjaram atau meletakkan tuala sejuk di atas dahi anak boleh mengurangkan demam. Pakaian longgar daripada fabrik yang ringan dan tuala sejuk yang diletakkan di bawah lengan atau pangkal paha boleh menyokong keberkesanan ubat menurunkan suhu badan.

    Selain itu, Dr Khoo menasihatkan ibu bapa sentiasa membaca label sebelum memberikan ubat pelega demam kepada anak. Label atau risalah memberi penerangan mengenai:

  • Kekuatan atau kepekatan produk.
  • Bagaimana dan bila anda patut menggunakan produk.
  • Berapa banyak perlu diambil dan berapa lama.
  • Bila anda patut mendapatkan nasihat doktor.
  • Cara terbaik untuk menyimpan ubat.Meskipun demam boleh menimbulkan kebimbangan, kebanyakan kanak-kanak akan sembuh dalam sehari dua. Rehat secukupnya dan bantuan ubat, kanak-kanak boleh kembali cergas dengan cepat.

    ANTARA FAKTA YANG PERLU DIKETAHUI MENGENAI DEMAM

  • Suhu badan normal biasanya 37 darjah Celsius.
  • Ukuran suhu badan anak kecil biasanya diambil menerusi bawah lengan (ketiak) atau telinga. Ukuran suhu badan yang diambil di bawah lengan adalah 0.5 darjah lebih rendah daripada suhu yang diambil menerusi telinga.
  • Demam tinggi tidak semestinya menandakan keseriusan penyakit.
  • Demam dialami kanak-kanak sihat yang sembuh dalam tiga atau empat hari tidak harus menimbulkan kebimbangan.


©The New Straits Times Press (M) Berhad

Tips Mengompres Anak yang Demam

Ini aku dapat dari DSA-ku, tips mengatasi anak yang demam:

1.Minum air putih sebanyak mungkin.
2.Minum obar panas
3.Kompres.

Cara kompres yang benar adalah:
Ambil air dari ledeng, kalau airnya terasa dingin sekali boleh
dikasih sedikit air panas (hangatnya hanya suam-suam kuku), ambil handuk kecil [washcloth] dan basahi handuk dengan air tsb, dilapkan ke anak dari kepala sampai ke ujung kaki, proses ini dilakukan secara cepat (lap bukan didiamkan dibadan). Sebaiknya pakai 2 handuk jika kita sudah selesai  dengan handuk yang pertama, ganti dengan handuk kedua. Proses ini dilakukan minimal selama 10 menit jangan takut anak nangis krn sebaiknya anak nagis kejer dari pada kena step/kejang (begitu istilah dari dokternya). Setelah itu baru dipakaikan baju, ini pun hanya baju tipis.

Kalau dalam kondisi panas anak mengigil, boleh diselimuti, tapi setelah menggigilnya hilang langsung dibuka selimutnya.Selain itu kompres tidak boleh dilakukan dengan Alkohol, Cologne, ataupun air es.

 

4 Tanggapan to "Demam bukanlah musuh yang harus di perangi"

kalau demam bukanlah musuh yang harus diperangi, bagaimana dengan efek demam yang membuat anak menjadi kejang kejang/stuip yang cukup lama dan berulang ulang..? bukankah ini sangat berbahaya karena dapat merusak ribuan sel syaraf. wajar saja orang tua menjadi sangat cemas melihat anak balitanya sakit sperti itu, lalu bgmna penangannannya yang baik..?

Happiness is not how much money we have but how much time we can be thankful

Penyakit kutil ini juga bisa terjadi pada kaum lakilaki atau wanita dan kemungkinan terjadi pada lakilaki lebih rendah daripada kaum perempuan.

Gini ya Mas Anjar, kan sudah dijelaskan di atas bahwa setelah kejang deman tidak ditemukan pula bukti-bukti yang menyatakan bahwa demam mereka kemudian mengalami efek serius. Jadi soal kejang yg lama dpt merusak ribuan sel syaraf memang tidak dijelaskan dlm artikel ini dan mungkin dpt disebabkan oleh faktor lain yg lebih penting drpd hanya fokus pd permasalahan demamnya dan jika sudah spt itu lebih baik lgsg di bawa ke dokter yg brpengalaman. “Anggapan bahwa pemberian obat penurun panas akan mengurangi kejadian kejang demam pun tidak didasari oleh bukti yang nyata.” Yg artinya bahwa kemungkinan anak utk kejang demam tetap akan sama, tidak hilang ataupun berkurang kemungkinannya, walaupun anak tsb sudah diberi obat penurun panas maupun tidak diberi obat penurun panas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ancha

pengunjung online

RSS Informasi Kesehatan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Info Seputar Obat

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Baca JUga

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 335,286 hits

Geo Clock

YM_KU

Geo Map

Geo Counter

Jadwal Sholat

Visitor

Oktober 2008
S S R K J S M
    Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Geo Weather

RSS Berita Terkini Detik.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

facebook

Profil Facebook Ancha Sofyan
%d blogger menyukai ini: