Posted by: farmasidinkesrl on: November 2, 2008
Curup, 02 Nov 2008
Ketika mendengar obat generik, umumnya orang akan langsung mengasumsikannya sebagai obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu. Benarkah asumsi ini?
Faktanya tidak demikian. Kurangnya informasi seputar obat generik adalah salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Padahal dengan beranggapan demikian, selain merugikan pemerintah, pihak pasien sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat.Membeli obat tidak bisa disamakan dengan membeli barang elektronik. Umumnya harga barang elektronik sebanding dengan kualitasnya, dimana semakin mahal harganya maka semakin bagus kualitasnya.Semua obat baru, tentu harus dibayar tinggi untuk jasa penemuannya, yang menjadi hak eksklusifnya. Namun, tidak semua penyakit yang pasien derita memerlukan jenis obat baru.
Harga obat generik bisa ditekan karena obat generik hanya berisi zat yang dikandungnya dan dijual dalam kemasan dengan jumlah besar, sehingga tidak diperlukan biaya kemasan dan biaya iklan dalam pemasarannya. Proporsi biaya iklan obat dapat mencapai 20-30%, sehingga biaya iklan obat akan mempengaruhi harga obat secara signifikan.
Mengingat obat merupakan komponen terbesar dalam pelayanan kesehatan, peningkatan pemanfaatan obat generik akan memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Orang sering mengira bahwa mutu obat generik kurang dibandingkan obat bermerk. Harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya bahwa obat generik sama berkualitasnya dengan obat bermerk.
Padahal generik atau zat berkhasiat yang dikandung obat generik sama dengan obat bermerk. Harganya yang jauh lebih murah bukan karena mutunya rendah, tetapi karena banyak faktor biaya yang dapt di pangkas dalam produksi dan pemasarannya.“Orang kan makan generiknya bukan merknya, karena yang menyembuhkan generiknya ” btulkan?
Jadi tidak ada alasan terutama bagi konsumen yang berkantong tebal untuk ragu dan merasa ‘bersalah’ jika hendak memilih obat generik dengan alasan penghematan. Apalagi dalam kondisi bangsa saat ini yang sedang menderita kronis akibat permasalahan hukum, politik, ekonomi, dan keamanan, di mana diperlukan kecerdasan seorang konsumen dalam memilih pengobatan.
November 11, 2008 pada 2:18 am
Umumnya masyarakat kita tidak begitu menerima yang disebut OBAT GENERIK itu salah satu penyebabnya, karena informasi yang mereka telan mentah-mentah dari profesi lain bahwa OBAT GENERIK itu cuma obat murahan, kalo mau cepat sembuh pake yang benar2 obat… begitu yang pernah saya dengar…
Memang susah kalau memberi informasi kepada masyarakat bila paham yang mereka anut adalah lebih percaya “APA KATA ORANG” tanpa mau mencari kebenaran…
itu yang memang sungguh2 terjadi di masyarakat kita…