Posted by: farmasidinkesrl on: Oktober 25, 2008
tulisan di ambil dari berbagai sumber
Penyebab diare ternyata banyak ragamnya. Mulai dari salah makan, stres, sampai kanker usus besar. Jadi, jangan remehkan diare. Tidak lama setelah ibunya meninggal karena sakit, Nanda (26 tahun) diserang diare hebat. ”Dalam sehari bisa berkali-kali buang air besar,” kenangnya. Ia mengira karena kelelahan dan makan yang tidak teratur lantaran merawat sang ibu.
Beberapa obat di pasaran dicoba. Tidak mempan. Ia pergi ke dokter yang kemudian merekomendasikannya pada psikolog. Ternyata, diare muncul karena beban psikologis. ”Aku memang sedih karena Mama pergi, apalagi kita deket banget. Tapi nggak nyangka itu penyebab diare,” kata Nanda.
Nanda, seperti barangkali juga Anda, mengira diare yang dideritanya disebabkan oleh salah makan. Padahal, tidak selalu begitu. Menurut ahli penyakit dalam, dokter Dadang Makmun SpPD KGEH, diare bisa merupakan gejala stres hingga kanker usus besar.
Pada dasarnya, diare merupakan perubahan pola buang air besar (BAB). Baik frekuensinya bertambah atau berubah konsistensinya, dari yang semula padat menjadi lembek atau cair. Bisa juga kedua-duanya. Frekuensi BAB sebanyak 1-3 kali sehari masih dalam batas normal. ”Tapi kalau sudah di atas tiga kali sehari, apalagi disertai perubahan konsistensi, itu bisa dikatakan diare,” jelas ahli dari Subbagian Gastroenterologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM ini.
Diare terbagi menjadi diare akut dan diare kronik. Menurut Dadang, diare akut terjadi mendadak dan sering. Tapi umumnya, diare sembuh tidak lama setelah diobati. ”Sedangkan diare kronik adalah yang tidak berhenti di atas dua minggu, meski ada juga ahli yang memberikan batas waktu satu bulan,” kata dia.
Dadang menambahkan, terdapat empat tipe diare, baik diare akut maupun kronik. Pertama adalah diare osmotik, yakni keluarnya cairan tubuh ke dalam rongga usus yang disebabkan oleh berkumpulnya zat-zat yang tidak dapat diserap oleh tubuh, kemudian dikeluarkan melalui anus. Diare ini terjadi pada keadaan malabsorbsi karbohidrat. Atau pada saat penggunaan obat-obatan pencahar golongan garam magnesium.
Kedua, diare sekretorik di mana sel-sel usus mengeluarkan cairan sehingga cairan berkumpul dalam rongga usus kemudian keluar. Ini bisa disebabkan infeksi virus atau bakteri. Contohnya adalah diare yang terjadi pada penderita kolera. Di sini, toksin yang dihasilkan kuman kolera menyebabkan sel-sel usus mengeluarkan cairan. Diare tipe ini dapat juga dipicu oleh hormon yang diproduksi oleh jenis tumor tertentu.
Ketiga, diare eksudatif, yaitu peradangan pada usus. Diare jenis ini bisa disebabkan oleh bakteri, tapi bisa juga terjadi pada keadaan-keadaan non-infeksi seperti pada tumor ganas usus, atau pun cairan yang ada di dalam rongga usus.
Terakhir, diare tipe gangguan motilitas, yakni keadaan di mana gerakan usus tidak normal. Akibatnya, makanan tidak bisa diserap kemudian dikeluarkan dalam bentuk diare. Membedakan empat jenis diare ini memang bukan pekerjaan gampang buat orang awam. ”Tapi penting untuk mengenali mana yang akut dan mana yang kronik,” tegasnya.
Diare akut
Diare akut bisa disebabkan oleh kuman maupun virus. Menurut Dadang, ada yang sifatnya berair (watery) seperti yang terjadi pada kolera atau karena virus tertentu. Pada kolera, kadang-kadang disertai dengan muntah. Perlu penanganan cepat karena bisa mengancam nyawa akibat kehilangan cairan.
Diare juga bisa bersifat berdarah (bloody), bahkan berlendir. Ia mencontohkan, diare yang disebabkan oleh kelompok amuba bisa menyebabkan diare luar biasa dengan rasa sakit atau mules, disertai darah, dan kadang-kadang lendir. ”Yang ini kita sebut sindrom disentri,” jelasnya.
Bentuk diare akut lain adalah yang terjadi pada keracunan makanan (food poisoning). ”Gejala diare umumnya muncul setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh kuman, bisa juga oleh virus atau zat kimia tertentu,” katanya. Kadang disertai muntah, pusing atau demam.
Jenis diare akut lain yang sering ditemukan adalah traveller’s diarrhea, yang menjadi momok bagi para turis. Diare jenis ini terjadi paling sering karena kontaminasi makanan yang dia makan. Tapi, bisa juga disebabkan oleh stres atau karena obat-obatan yang dikonsumsi.
Diare kronik
Apabila diare terjadi lebih dari dua minggu dan tidak berhenti setelah minum obat, patut dicurigai sebagai diare kronik. ”Apalagi kalau keluhan diare berulang, disertai dengan darah atau lendir dan penurunan berat badan,” tegas Dadang. Diare kronik yang sering terjadi adalah yang disebut inflammatory bowel disease atau penyakit inflamasi usus. Biasanya ini terjadi di usus besar. ”Penyebabnya diduga karena gangguan pada sistem imun, infeksi virus tertentu atau bahkan semacam kuman mikrobakterium,” paparnya.
Pasien sering mengeluhkan diare berulang, kadang-kadang berdarah dan sering berlendir, bisa juga disertai dengan mules. Dadang meminta pasien mewaspadai diare yang tidak sembuh meski sudah ke dokter. Penyakit ini bisa dipastikan dengan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian bawah.
Diare kronik yang juga sering ditemui adalah semacam ketidakmampuan seseorang menyerap kelompok makanan tertentu. Dadang mencontohkan diare karena mengonsumsi makanan dari gandum, karbohidrat, atau susu. ”Diare bisa dihentikan jika dia tidak mengonsumsinya”.
Diare kronik lain adalah sindrom usus iritatif (irritable bowel syndrome). Diare kronik jenis ini kadang-kadang disertai produksi lendir. Penyebab utamanya adalah stres. ”Biasanya setelah dilakukan pemeriksaan seksama sampai endoskopi, tidak ditemukan kelainan”. Pada jenis ini, semakin stres seseorang, semakin sering ia diare. Karena itu, pengobatannya seringkali melibatkan dokter ahli jiwa. Dokter hanya memberikan obat-obatan yang bersifat simptomatik. Diare kronik bisa juga disebabkan oleh radiasi. Dadang mencontohkan, pasien yang menderita tumor rahim, akan memperoleh pengobatan radioterapi. ”Salah satu efek sampingnya adalah kerusakan pada dinding usus besar terutama sebelah kiri”.
Diare bisa muncul enam bulan hingga puluhan tahun setelah radiasi. ”Muncul berupa diare terus-menerus, kadang-kadang sampai berdarah”. Namun, tidak mudah mengobati keluhan diare akibat radiasi.
Diare kronik yang saat ini tengah menjadi perhatian adalah tumor ganas di saluran cerna bagian bawah. Disebut juga kanker kolon atau kanker usus besar. Meski belum ada prevalensinya di Indonesia, Dadang melihat angka kejadian yang meningkat dan pergeseran usia penderita. ”Kalau dulu umumnya berusia di atas 40 tahun, sekarang ini sudah mulai ada penderita usia 20-30 tahun,” kata dia. Gejalanya adalah diare berulang, disertai darah dan lendir serta berlangsung lama. Juga, disertai penurunan berat badan. Sebagian kecil bergejala sulit BAB. Penyebabnya antara lain diet kurang serat. Menurut Dadang, kanker kolon lebih mudah ditangani jika diketahui sejak dini. Sayang, banyak penderita datang dalam keadaan lanjut. Bentuk penanganan biasanya berupa operasi.
Diare kronik juga bisa disebabkan oleh tumor yang memproduksi zat yang menyebabkan usus bergerak lebih cepat. Akibatnya, makanan tidak bisa terserap dengan baik. Tumor ini relatif jarang.
Untuk memastikan apa penyebab diare kronik, serta apa langlah penanganan selanjutnya, Dadang menegaskan perlunya pemeriksaan endoskopi saluran cerna. Ini merupakan pemeriksaan yang paling penting untuk dilakukan, di samping pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Apapun penyebab dan tipe diare, perlu penanganan oleh dokter ahli. Memang masih banyak orang yang menangani diare dengan obat yang beredar di pasaran. ”Ini tidak salah, hanya tetap harus dijaga jangan sampai kekurangan cairan serta sesegera mungkin berobat ke dokter”.
Komentar Terakhir